top of page

Menjangkau yang Terluka: Evaluasi Psikologis Anak Korban Kekerasan Seksual Lewat Layanan On-Demand

  • Gambar penulis: Elizabeth Santoso
    Elizabeth Santoso
  • 26 Jun
  • 2 menit membaca

Kekerasan seksual terhadap anak merupakan pelanggaran berat terhadap hak asasi manusia yang berdampak mendalam pada kondisi psikologis korban. Efek trauma yang ditimbulkan dapat berlangsung dalam jangka panjang, memengaruhi perkembangan emosi, perilaku, dan kualitas hidup anak. Penanganan yang cepat, tepat, dan berkesinambungan menjadi sangat penting. Dalam konteks ini, pemanfaatan tenaga kesehatan on-demand menghadirkan pendekatan baru yang fleksibel dan responsif dalam memberikan layanan psikologis pascatrauma bagi anak penyintas. 


Tenaga kesehatan on-demand merujuk pada profesional seperti psikolog klinis anak, psikiater, atau konselor yang dapat diakses melalui platform digital. Layanan ini memungkinkan keluarga dan pendamping anak mendapatkan evaluasi awal secara cepat tanpa harus menunggu jadwal rumah sakit atau fasilitas kesehatan konvensional. Model ini sangat relevan mengingat banyak keluarga penyintas yang menghadapi hambatan seperti keterbatasan jarak, waktu, biaya, atau rasa takut terhadap stigma sosial. 


Evaluasi psikologis pascatrauma oleh tenaga kesehatan on-demand dapat dilakukan melalui sesi daring yang aman dan terjadwal, dengan pendekatan ramah anak. Proses asesmen dilakukan dengan metode yang sesuai usia dan kondisi psikologis korban, termasuk observasi perilaku, wawancara terstruktur, hingga penggunaan alat ukur standar yang disesuaikan untuk konteks digital. Konseling untuk keluarga juga menjadi bagian penting dalam layanan ini agar lingkungan sekitar mampu memberikan dukungan yang optimal. 


Keunggulan sistem ini adalah kemampuannya menjangkau lebih banyak korban dalam waktu cepat, termasuk mereka yang berada di wilayah terpencil atau yang tidak memiliki akses ke layanan psikolog konvensional. Selain itu, penggunaan teknologi membuat proses pencatatan dan pelaporan menjadi lebih rapi, terdokumentasi, dan bisa digunakan untuk rujukan hukum bila diperlukan. 


Namun, implementasi layanan ini harus memperhatikan prinsip keamanan dan kerahasiaan data, serta kompetensi tenaga profesional dalam menangani kasus kekerasan seksual anak. Perlu juga ada pelatihan khusus agar tenaga kesehatan memiliki kepekaan terhadap trauma dan mampu membangun relasi terapeutik melalui medium digital. 


Kolaborasi antara Kementerian Kesehatan, Kementerian PPPA, LSM pendamping anak, serta penyedia layanan digital sangat penting dalam memperluas dan memastikan kualitas layanan. Dibutuhkan standar nasional yang menjamin validitas asesmen, integritas data, dan keberlanjutan dukungan psikologis untuk korban. 


Dengan pendekatan yang cepat, aman, dan terpersonalisasi, tenaga kesehatan on-demand berperan penting dalam mendukung pemulihan anak penyintas kekerasan seksual. Ini adalah langkah strategis menuju sistem perlindungan anak yang lebih adaptif dan responsif terhadap realitas zaman digital.

bottom of page