top of page

Lebih dari Layanan Medis: Tenaga Kesehatan On-Demand yang Humanis dan Adaptif

  • Gambar penulis: Elizabeth Santoso
    Elizabeth Santoso
  • 7 Jul
  • 2 menit membaca

Bencana sosial, seperti konflik horizontal, kerusuhan, atau pengusiran massal, meninggalkan luka yang tak kasat mata. Selain kerugian fisik dan materi, para penyintas kerap menghadapi trauma mendalam, kecemasan, kehilangan rasa aman, hingga stigma dari masyarakat sekitar. Sayangnya, akses ke layanan kesehatan, terutama kesehatan mental, seringkali terhalang oleh situasi darurat, keterbatasan infrastruktur, atau ketakutan untuk tampil di ruang publik. 


Dalam konteks ini, kehadiran tenaga kesehatan on-demand menjadi jawaban inovatif yang personal dan adaptif. Melalui platform digital, penyintas dapat terhubung dengan psikolog, psikiater, perawat, atau konselor tanpa perlu mendatangi pusat layanan yang mungkin jauh atau tidak aman. Model layanan ini memungkinkan pendampingan dilakukan sesuai kebutuhan penyintas: lebih fleksibel, lebih privat, dan lebih empatik. 


Tenaga kesehatan on-demand dapat memberikan konseling trauma, asesmen kondisi psikologis, serta edukasi kesehatan untuk mencegah gangguan fisik akibat stres berkepanjangan. Misalnya, penyintas dapat mengakses sesi konseling daring untuk berbicara tentang mimpi buruk, rasa takut, atau kehilangan yang mereka alami. Layanan ini juga penting untuk mencegah trauma berkembang menjadi gangguan yang lebih berat seperti PTSD (Post-Traumatic Stress Disorder). 


Selain itu, pendekatan on-demand membuat pendampingan menjadi adaptif. Tim kesehatan dapat menyesuaikan waktu, bahasa, dan metode komunikasi sesuai latar belakang budaya atau kondisi sosial penyintas. Bagi mereka yang sulit membaca, misalnya, sesi dapat dilakukan melalui telepon atau video call. Bagi yang tinggal di tempat pengungsian, tenaga kesehatan dapat mengatur kunjungan langsung yang lebih personal. 


Keunggulan layanan ini juga terletak pada kemampuan untuk mengurangi hambatan psikologis. Banyak penyintas bencana sosial merasa takut atau malu untuk berbicara di depan umum atau kelompok besar. Melalui konsultasi personal, mereka dapat lebih terbuka dan merasa dihargai sebagai individu, bukan hanya bagian dari “korban” kolektif. 


Di sisi lain, platform on-demand juga membantu pendataan kondisi psikososial para penyintas secara real time. Data ini penting untuk membantu pemerintah, lembaga kemanusiaan, atau LSM dalam merancang intervensi yang lebih tepat sasaran, baik dalam jangka pendek maupun pemulihan jangka panjang. 


Tentu, ada tantangan yang harus dihadapi. Tidak semua wilayah terdampak memiliki koneksi internet stabil. Literasi digital juga menjadi hambatan, terutama bagi kelompok rentan seperti lansia atau mereka yang belum terbiasa menggunakan teknologi. Oleh karena itu, kolaborasi antara pemerintah, penyedia layanan, dan relawan lokal menjadi kunci untuk memastikan layanan ini benar-benar menjangkau mereka yang membutuhkan. 


Tenaga kesehatan on-demand bukan hanya hadir sebagai penyedia layanan medis, tetapi juga sebagai teman seperjalanan yang mendengarkan, memahami, dan mendampingi penyintas bencana sosial melewati masa sulit. Lewat pendekatan personal dan adaptif, layanan ini membantu memulihkan harapan dan martabat mereka, meskipun di tengah keterbatasan.

bottom of page